Tuesday, 6 April 2021

Still Into You

0 comments


 

"But when our fingers interlock,"
"Can't deny, can't deny you're worth it."

Harry menatap Allie dengan penuh perhatian sembari memainkan gitarnya. Ia beranggapan setelah semua ini berlalu, Allie bisa membuka kembali hatinya dan menerimanya tanpa terpaksa. Tapi, pikiran itu segera ditepisnya mengingat laki-laki itu ada di sana. Ya, ada Will yang terus menerus menatapnya dengan penuh cinta. 

"Cause after all this time,"
"I'm still into you."

Karena sangat terganggu dengan Will dan Allie yang saling bertatapan sedangkan ia diabaikan, Harry pun memetik gitarnya dengan tempo yang sangat tidak beraturan. Hal ini hanya karena Harry menginginkan perhatian Allie. Allie yang mendengar suara gitar yang menggebu-gebu pun akhirnya menatap Harry karena suaranya tenggelam saat menyanyikan lagu Still Into You dari Paramore itu.

Berulang kali Allie memberi kode dengan memberi tatapan sinis tapi Harry tidak mendengarnya. Di lain sisi, Will menepuk drumnya dengan penuh percaya diri hingga Allie benar-benar bingung dengan lagu yang sedang ia nyanyikan. 

Sembari lagu memasuki Reff terakhir, Allie menghela napas sambil meletakkan micnya. Membungkuk sebentar dan akhirnya menuju ke belakang panggung. "Apa-apaan itu tadi, Harry?" tanyanya dengan kesal. 

"Apa? Itu memang bagianku," jawab Harry. Sedangkan Will memutar bola matanya dan menepuk pundak Harry. 
"You really ruined that performance." Will pergi meninggalkan Allie dan Harry yang saling bertatapan penuh amarah.

Sembari menghela napas, Harry meminta maaf dan pergi meninggalkan Allie yang masih melipat kedua tangannya. Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke Whatsappnya. Ia pun pamit dengan Ketua Acara dan berlari setelah mengucap alasannya. Harry yang sigap melihat Allie akhirnya menawarkan tumpangan sebagai permohonan maafnya.

"Kenapa terburu-buru?" tanya Harry yang hanya dijawab Allie dengan tatapan sinis. Benar-benar muka jutek dan imut bersamaan.
"Berhenti bertanya seolah kita dekat." Allie turun saat sudah sampai di rumahnya. Terlihat ayahnya yang sudah berdiri di depan gerbang menyambut kehadirannya. Harry benar-benar tidak bisa berkata-kata saat melihat perawakan ayahnya yang agak seram. 

"Saya pergi ya, Om," ucap Harry yang hanya dibalas dengan anggukan dan bergegas pulang ke rumah. Dan, bersiap tidur untuk kuliah lagi, besok. 

***

POV Allie

Allie mencuci wajahnya dan berbaring sembari mengingat kejadian yang barusan terjadi antara Ia dan Harry. Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Harry yang bahkan tidak mengenalnya ingin mengacaukan performanya. Tapi sebenarnya itu penampilan gitar yang bagus, tapi suaranya benar-benar terdengar jelek saat itu. 

Harry, anak kelas A yang katanya pintar dan juga kaya itu mana mungkin mau berteman dengannya. Ia bahkan baru bicara dengan Harry saat latihan untuk penampilan ini. Berbeda dengan Will yang sudah ia kenal lama. Sebenarnya Will yang mengenal Harry karena mereka sekelas. Bahkan ia masih tidak percaya Harry menawarkannya tumpangan. Daripada terus-menerus memikirkan Harry, lebih baik ia tidur agar besok saat ke kampus terlihat segar. 

Keesokan harinya, Will sudah berada di depan rumahnya dengan sepeda motor yang biasa ia pakai. Will menanyakan kabarnya tadi malam karena ternyata Will mencarinya. Dan ekspresi Will agak berubah saat mendengar bahwa ia diantar oleh Harry tadi malam.

"Aku benar-benar tidak habis pikir, apa ia merasa terganggu karna kau selalu menatapku saat penampilan?" tanya WIll yang membuatnya tertawa. 

"Siapa juga yang menatapmu, haha."Allie menepuk pundak Will saat mereka berjalan menuju kelas masing-masing. Terlihat Harry sudah di duduk di kelas tepatnya di samping Helena. Mereka terlihat membicarakan lelucon hingga Harry tertawa. Tawa yang ternyata menurutnya manis dan itu tidak berlangsung lama karena Harry sekarang menatapnya. Ia pun segera bergegas menuju kelas B.

"Hey, Allie." Devin menyapa sambil tersenyum. Cassandra yang merupakan teman baiknya sudah menyediakan kursi di sampingnya. 

"Kemarin itu performa yang bagus," ujar Cassandra. 
"Sebenarnya, Harry sangat atraktif,. Fanny menyahut obrolan itu dan membuat Allie terdiam sejenak. Bisa-bisanya ia kesal dengan Harry padahal penampilan kemarin malam itu bagus karena dia.

Setelah kelas bubar, Harry sudah berdiri di pintu dan terlihat menunggu seseorang. Fanny menyapa Harry dan dibalas Harry pula dengan senyuman. Ia hanya mengabaikan itu dan melanjutkan tugasnya. Tapi tugas yang ia kerjakan sungguh menguras otaknya dan menaruh wajahnya di atas telapak tangan dan tidur di atas meja. 

Belum beberapa menit ia tertidur, seperti ada yang mengelus rambutnya dan langsung terkejut karena ternyata itu Harry. Harry hanya tersenyum tipis sembari menyapa. 

"Apa yang kau lakukan, di sini?" tanya Allie yang dijawab Harry dengan memegang pulpen.
"Aku akan membantumu, ini soal yang mudah." Harry berkata sambil menjawab soal kalkulus itu dengan sangat rapi. Benar-benar boyfriend material.

"Apa?" tanya Harry.
"Hah," tanya Allie balik.
"Boyfriend material?" tanya Harry sambil tertawa dan Allie benar-benar tidak tahu bahwa ia mengucapkan kata itu. "Mau pulang bersamaku?" tanya Harry yang spontan dijawab Allie dengan gelengan kepala. 

"Allie, maaf aku terlambat menjemputmu." Yap, Will datang dan terlihat terkejut melihat Harry sekarang ada di sampingnya.

"Dia bersamaku," ujar Harry yang membuat Allie menoleh.
"Boy---" Allie mengangguk dan mengiyakan sembari menarik tangan Harry dan melambai pada Will. Will hanya terdiam melihat situasi ini, sebab Allie tidak pernah pulang dengan siapa pun selain dia. 

Terlihat sebuah pesan masuk ke Whatsapp Will yang membuatnya harus menghela napas perlahan.

Nanti kuceritakan ya, Will. 




Leave a Reply

Terima Kasih telah membaca. Akan sangat dihargai jika diberi kritik dan saran juga hal menarik lainnya yang akan dibahas :)

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)