Friday, 13 March 2020

Sepenggal Kisah

0 comments



 I never feel a pain like this, not what I want. Im just thinking that I always regret everything until I cry. I always write something useless than make a writing to my book. I’ll always be fools. And now, I want to give u my pain, so I can breath.

Sore itu semuanya baik-baik saja. Ia dan rekannya itu sedang mencari pemandangan yang bagus agar bisa cocok dengan simetris wajahnya. Semuanya berlalu dengan baik, walaupun rekannya itu sempat keracunan makanan Bersama teman-temannya yang lain hingga tidak masuk kelas karena sakit. Tapi semuanya juga bisa berubah menjadi tidak baik.

Saat hari mulai menjelang maghrib, dan ia pun hendak pulang. Namun sesuatu terjadi, suara dentuman keras memekakkan telinganya. Ia bahkan tidak bisa bernapas karena melihat benda berharga itu kini jatuh dan terlihat belakangnya yang berwarna hitam. Entah layarnya retak, keyboardnya rusak, atau bahkan  tidak bisa hidup sama sekali.


Pikirannya buyar, ia bahkan menyesali berulang kali tentang apa yang barusan terjadi. Kakinya tak sanggup untuk pulang, sampai rekannya datang dan menenangkannya. Tapi bukan suatu sambutan  baik, karena sekarang dirinya sedang berada pada kondisi hati yang buruk. Bahkan tangisan itu hendak tumpah saat semua temannya memanggil untuk pulang.


Ia berulang kali menyesali sampai dalam benaknya, ia hanya berpikir bahwa ia adalah manusia yang ceroboh. Tidak ada satu pun yang cocok baginya untuk disimpan apalagi benda berharga, pasti rusak. Teringat lagi ke jaman di mana laptopnya benar-benar menjadi bangkai karena terkena banjir yang ia buat sendiri. Itu hampir saja menenggelamkan ijazahnya dan berkas penting lainnya.


“Makan dulu?” tanya rekannya bahkan saat masih perjalanan pulang. Tapi ia hanya menatap kosong, seperti kehilangan semangat hidup. Di sisi lain, ia menyadari bahwa rekannya juga punya masalah yang berkaitan dengan lomba yang ia daftarkan. Ia merasa bersalah untuk terus menerus mengabaikan rekannya itu. Tapi apa pun yang terjadi, itu memang keputusan yang sulit.


“Aku masih sakit karena keracunan tadi, dan harusnya dosen itu mengerti.” Rekannya berujar sambal mengarahkan motornya menuju rumah makan terdekat untuk membeli nasi yang dijanjikan padanya. Ia berusaha menolak, tapi tidak ada tanda-tanda rekannya itu untuk memutar arah. Semua keluhan yang disampaikan padanya hanya menjadi boomerang karena sekarang kondisi hatinya makin tidak baik.


Bahkan saat nasi itu sampai padanya, dan rekannya itu mengantar pulang, hatinya semakin tidak baik. Ia menyukai rekannya itu, dan masih berharap untuk dihibur. Sayangnya, keduanya sama-sama dalam kondisi yang tidak baik sehingga ia hanya bisa menahan sesak di dada.


“Besok aku jemput, aku janji kita pergi.” Rekannya berteriak lantas mengungkit perjanjian bahwa mereka akan pergi di hari Sabtu karena ada acara temannya yang lain. Tapi ia mengabaikannya, ia bahkan menolak untuk pergi dan tidak selera makan. Rasanya ingin ia biarkan perutnya kosong hingga membutanya mati kelaparan. Tapi ia masih ada akal sehat karena merasa masih memiliki orang tua. Ayahnya sakit, dan sudah tiga hari masuk Rumah Sakit. Ayahnya yang selalu bekerja sehari-hari dan memberikannya nafkah bahkan saat ia menyadari ia lebih berkecukupan di sini, daripada orang tuanya di kampungnya.


“Jangan kasih tau anak, nanti mereka khawatir.” Begitulah percakapannya tadi pagi Bersama ibunya yang berulang kali menelpon tapi tidak diangkatnya.

Teringat lagi kisah di mana ia merasa malu memiliki ayah karena ayahnya berperawakan tinggi besar, gondrong, layaknya preman. Semua orang di kelas takut padanya layaknya takut pada ayahnya. Ini tidak berakhir baik, tidak semua benar-benar menghargainya karen ia memang hebat, tapi karena takut sewaktu-waktu jika ia memberi tahu ayahnya.

Ia benar-benar menyesali saat ayahnya tahu bahwa ia sangat malu memiliki ayah berperawakan seperti itu, apalagi saat itu ia pernah ditampar hingga mimisan. Semuanya berakhir tidak baik saat ia sakit di tahun 2015 dan kemudian semakin membenci ayahnya.

Hidup memang tidak adil, siapa sangka di tahun 2020 ayahnya malah sakit keras. Ia bahkan tidak menyangka semua ini bisa terjadi. Satu hal yang disesalinya dalam hidup adalah bahwa ia tidak bisa mendapat cumlaude karena pernah mengulang satu matkul walaupun ibundanya tidak tahu. Semuanya benar-benar tidak diduga, ia bahkan terlalu berleha-leha untuk belajar di kampusnya.

Ia harus melakukan suatu hal yang bermanfaat yang bisa menghasilkan uang agar semuanya bisa baik-baik saja. Dari dulu ia ingin sekali menerbitkan buku tapi tidak pernah kesampaian karena rasa malasnya. Dan selalu saja menghabiskan waktu bersenang-senang. Semuanya tidak pernah sesulit ini, tidak pernah serumit ini dari yang ia bayangkan. Ia ingin istirahat, sebentar saja untuk mengetahui bahwa ia masih berada di dunia yang sama. Dunia yang selalu mengabulkan permintaannya.

Leave a Reply

Terima Kasih telah membaca. Akan sangat dihargai jika diberi kritik dan saran juga hal menarik lainnya yang akan dibahas :)

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)