Thursday, 31 October 2019

Love Hate

0 comments
"I'm fine, i would be fine," gumamnya sambil sesekali melihat ke setapak jalan. Genangan air hujan itu kini sudah semata kaki, dan sepatunya mau tidak mau harus basah dan membuat ia semakin mengigil.

Dentingan detik itu terus bergemuruh di telinganya. Seperti bom atom yang menghitung mundur demi menelan korbannya. Karena, ia tidak pernah pulang selarut ini.
Setiap toko yang dilewatinya sudah tutup dan hanya tersisa lampu jalanan yang cahayanya bahkan sudah redup.

Ia menghela napas panjang sambil memeluk tas sandangnya yang mungil sembari berlari menuju halte yang sedari tadi menarik perhatiannya. Bahkan bus tidak ada lagi yang melintas, orang-orang tidak ada lagi yang duduk di halte itu. Just her, alone.

"How stupid you are, I would be die." Ia bergumam sambil mengetuk kepalanya.
"Kau bahkan belum mencobanya." Ia langsung menatap ke asal suara. Seorang laki-laki bertubuh tegap dengan jas hujan sedang menatapnya sambil tersenyum.

Ia menggeleng pelan. Laki-laki itu pasti sedang menelepon seseorang, bukan ia yang laki-laki itu ajak bicara.

"Kau terlihat gelisah, matamu tidak lepas dari arloji basah itu, dan aku melihat kau bergumam sambil mengetuk kepala, kau takut dimarahi seseorang, bukan?" tanya laki-laki itu lagi.

Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun, walaupun ia mulai merasa bahwa laki-laki itu sedang menjawab apa yang ada dalam pikirannya.

"Aku berbicara padamu, kenapa kau tidak menjawabnya?" Laki-laki itu sekarang sedang berlutut di hadapannya. Dan kali itu, ia sadar, laki-laki itu tampan, bahkan dengan cahaya seadanya, siluet laki-laki itu seperti menghentikan waktu yang sedang berjalan.

"Siapa kau?" tanyanya tajam. Walaupun wajah itu mengalihkan perhatiannya, ia masih tetap mengacuhkan laki-laki itu.

"Apa kau tidak ingin mencoba pulang? Kau tahu, gadis sepertimu tidak baik masih berada di sini sampai jam satu pagi," kata laki-laki itu sambil duduk di sampingnya tanpa menjawab pertanyaan yang ia tanyakan sebelumnya.

Ingin ia beranjak dari tempat itu kalau saja hujan itu tidak turun lagi dengan derasnya. Baru kali ini, ia benar-benar terjebak di suatu halte dengan orang asing yang terus-terusan menanyainya.

"Aku sudah memberitahumu dari awal." Sekarang laki-laki itu tertawa mengejeknya, ia memang mengakui, harusnya ia pergi daritadi sejak laki-laki itu bertanya pertama kali. "Aku akan mengantarmu jika kau mau, Muthia."

Deg. Jantungnya berdegup kencang, karena ia tidak pernah memberitahu namanya dan sekarang laki-laki itu menyebut "Muthia". Seakan bersikap biasa, ia malah pergi menerobos hujan.

Tapi tidak sampai setengah jalan, ia kembali, karena tidak kuat merasakan hujan yang menyerbu tubuhnya yang hanya dibalut kaos. Dan belum sempat ia meminta, laki-laki itu langsung memakaikannya jas yang sebelumnya laki-laki itu pakai.

"Ayo." Laki-laki itu menggenggam tangannya sembari menariknya menerobos hujan yang lebat itu. Entah kenapa, genggaman itu menimbulkan getaran aneh dan kehangatan mulai muncul di saat yang bersamaan.

Dalam beberapa menit itu, ia hanya memandang wajah laki-laki itu, tersenyum sendiri sampai ia lupa menatap arlojinya.

"Kau bisa berhenti menatap wajahku sekarang," kata laki-laki itu yang membuatnya menghela napas, ia bahkan tidak sadar laki-laki itu menyadarinya.

Dan taman itu membuatnya sadar, rumah berwarna coklat itu membuat matanya membelalak lebar, dan pagar hitam itu menyadarkannya satu hal, ini adalah kediamannya.

"Harusnya kau mengenalku, Muthia." Suara itu membuatnya menoleh.

Laki-laki itu menjauh pergi bahkan sebelum ia sempat bertanya. Dan sebelum ia sempat mengejar, ibunya membuka pagar dan memeluknya erat.
"Thia, jangan buat kami khawatir lagi."
Malam itu, hanya satu pertanyaan yang ada di benaknya, "Siapa dia sebenarnya?"
Continue reading →
Wednesday, 30 October 2019

Balada Malam Kamis

6 comments
Saya ingin mengetik beberapa ilusi saat berada di Starbucks. Beberapa orang di sini sangat ramai, berbincang. Aku dan beberapa temanku mengambil tujuan di Centre Point.

Namun ketika aku sampai di Centre Point, temanku meminta memesan grab menuju Merdeka Walk. Di sini ternyata banyak sekali cafe seperti Starbucks, McD, Nelayan, dan beberapa cafe ternama lainnya. 

Sebagai catatan, aku tidak pernah ke Starbucks. Hari ini aku menginjakkan kaki ke starbucks dan meminum minuman yang bertuliskan namaku. Harganya tergolong murah, katanya. Karena buy 1 get 1 dan aku meminumnya. Rasanya seperti minuman strawberry biasa namun memang suasana di sini berbeda, tenang, dingin, adem dan tempatnya juga sangat fenomenal. 

Ada beberapa pengalaman saat kami menuju McD, temanku punya promo yang tidak bisa digunakan dan akhirnya jengkel. Lalu aku pun memutuskan untuk memesan grabfood dengan pesanan seharga puluhan ribu. 

Namun belum sempat makanan itu datang, hujan mengguyur setempat. Kami berlarian menuju starbuck dan mulai mengambil beberapa tisu, maklum aku belum pernah minum di sini. Selain itu , temanku juga menyembunyikan struknya. Kami berbincang, menghela keheningan malam dan akhirnya pulang. 



Continue reading →
Tuesday, 29 October 2019

DARKSIDE [1]

4 comments
Kali ini aku akan membahas postingan tentang adanya satu akun yang followers instagramnya mencapai hampir sejuta. Tapi postingannya mengambil semua screenshotan dari twitter.



Tweet ini berisi tentang cuitan seseorang tentang kekecewaannya terhadap akun ig tersebut yang punya banyak followers, dibayar tapi tak sedikitpun memberikan credit kepada anak twitter. Semuanya dicomot, diambil, tapi diberi credit saja tidak bisa. Apalagi dibayar. 

Banyak akun-akun seperti ini, mulai dari twitterans, drama sosial media, dramatwitter.id hingga Awreceh. Mereka kebanyakan mengambil konten twitter tapi tidak disertakan namanya. Sangat sangat disayangkan. 

Nah permasalahan muncul kembali saat ternyata diketahui cuitan tersebut sampai ke admin instagram tersebut. Dan ternyata mereka punya grup, dalam grup itu membahas tentang bagaimana "Anak Blue" a.k.a anak twitter dengan logo burung biru. Anehnya, mereka tidak tahu malu. 


Baca: Link

Sebagai seorang penikmat dan pengamat, saya tahu betul bagaimana Twitter bekerja. Mereka juga ada yang dibayar per konten, tapi bayarannya tak sebesar orang-orang yang di instagram dan dengan hasil comot bangga bahwa makan dari karya orang lain. 

Sangat disayangkan, saudara. Saya jengkel dengan twitter baru-baru ini, makin banyak orang sok tahu dan mengagungkan followers untuk debut ke ig. Tahu dampaknya? Tahu darksidenya? Inilah salah satu darkside twitter. Tidak usah dipungkiri, banyak orang berlomba-lomba ingin masuk ke instagram serta dikenal. 

Menurut saya, saya bahkan sangat kecewa saat orang-orang dengan seenak jidat mengambil ss cuit saya tanpa menyertakan credit. Saya juga kasihan terhadap teman-teman yang cuitan "nackal"nya diviralkan. I mean, itu bisa jadi jejak digital yang tidak bisa dihapus. Mereka sangat kejam. 

Pernah juga ada kasus teman sedomisili saya yang cuitannya dijadikan endorse padahal tidak dibayar sama sekali. Dan ketika dia minta fee, admin malah minta take down, padahal teman saya sudah janji akan mengadakan Give Away dari produk parfum tersebut. 

Maafkan saya tidak bisa memberikan gambar secara keseluruhan, saya tidak ingin memposting karya orang, atau cuitan orang. Jika ingin tahu respon atau live secara langsung, klik link di bawah gambat. Next akan saya bahas darkside twitter yang lain. 

Continue reading →
Monday, 28 October 2019

TIPS MEMILIKI FOLLOWERS BANYAK DI TWITTER

10 comments
Hai semua, maaf aku harus mengangkat topik pembicaraan ini, karena lagi maraknya isu-isu beredar masalah kenapa akun yang joined tahun 2019 bisa banyak followers? Dengan kata lain, apakah dia beli followers?

Nah untuk menjawabnya perkenalkan dulu, nama saya Sulis Rahmadani Hutagalung. Biasa dipanggil sulis, dan di twitter aku dikenal sebagai "zaenab" jika kalian sudah follow saya, dan punya blog langsung dm saja pasti saya follback. Um, saya bukan selebtwit atau apalah semacam itu yang pasti saat ini saya memiliki 14,7K followers. Katanya itu bukan jumlah yang sedikit, tapi di sini aku ingin share sedikit tips agar bisa memiliki followers banyak dan mutualan yang bisa sependapat dengan kamu. :) 




Sebelumnya, apa sih itu Twitter?

Twitter adalah layanan jejaring sosial dan mikroblog daring yang memungkinkan penggunanya untuk mengirim dan membaca pesan berbasis teks hingga 140 karakter akan tetapi pada tanggal 07 November 2017 bertambah hingga 280 karakter yang dikenal dengan sebutan kicauan (tweet). For a record aku sudah memainkannya sejak 2011 dan aktif sampai 2015 kemudian menggunakan twiitbot karna twitter sudah sepi dan kemudian ingin balik lagi di 2018 tapi kena suspend sampai akhirnya aktif di 2019.

Nah sebagai catatan lagi, saat itu followers aku masih seribuan dan itu pun aku mendapatkannya tidak dengan cara yang halal :D, saat itu masih beredar website yang bisa otomatis nambah followers, namanya saya lupa intinya saat itu sangat banyak dipakai, sayangnya, web itu terus menerus merambah timeline kita, dan saya mengakalinya dengan menonaktifkan aplikasi yang dipakai begitu seterusnya dari 100 followers hinga 1000 followers. Namun itu di tahun 2013 berakhir, aku tidak lagi menggunakannya.

Jadi sejak aku bergabung di twitter kembali di bulan Mei 2019, aku kemudian melihat timeline sangat ramai dan banyak akun-akun selebtwit yang lucu-lucu dan sering kutemukan di instagram live ngetweet di twitter. This is it, aku akan mulai tipsnya.


1. Sering JBJB/Mentionan sama Selebtweet.


Kamu ragu gak akan dibales? Sama. Saya juga sangat ragu kala itu. Bagaimana jika tweet saya tenggelam, karna kebetulan saya hobi ngekomen dan menyampaikan aspirasi maka saya ngetweet semua yang ada di pikiran saya. Dan boom! Mereka balas, hampir semua yang aku balas dibalas lagi. Teruntuk akun-akun besar seperti andihiyat yang aku yakin banget gamungkin dibales jadi aku ga pernah rep since itu padahal sekarang kalo aku cepat bales twit bg andi pasti dibales!  So, jangan pesimis guys.


2. Pakai Ava yang menarik


Walaupun sebenarnya ini sudah diketahui banyak orang, tapi aku ingin menambahkan. Twitter adalah platform berpendapat, termasuk ngetoxic, ngejulid, ngeluh dan segala macem. Jadi kalo misalkan kalian pake ava diri sendiri, tentu sangat awkward dan rada malu, nah kebanyakan orang pake ava pocong, kuntilanak, awkarin, awreceh, apa deh segala macem. Lalu ketika mutualmu ramai dan bertambah, kamu bisa kembali jadi diri sendiri. Tapi tetap ya, saya pake ava sendiri. Atau kalo mau jadi hode bisa. :D


3. Tweet yang berkaitan dengan kenyataan


Jangan sering-sering ngetwit baik2 aja, kadang kamu perlu yang ngeluh2 sedikit agar twitmu ramai dan orang-orang tau dirimu asik, dan akhirnya bikin orang gak segan follow kamu. Nah ini kan kebanyakan remaja, ibu-ibu juga sering viral kok apalagi yang berkaitan dengan seputar wanita atau mengkritik politik. Ya intinya twitter adalah platform viral tercepat, trending tercepat yang diluar pikiran manusia. Artinya keberuntungan juga jika twitmu rame. 


4. Jangan sombong.

Interaksi dalam dunia twitter perlu banget. Jangan cuma curhat-curhat tanpa nyari mutualan. Apalagi setelah minta follback, kamu gak pernah jbjbin orang lagi, alhasil ornag-orang ga akan pernah ketemu akun kamu. minimal dalam sehari kamu ngebalesin twit-twit yang lewat di timeline.


5. Share seputar kehidupan kamu, pertanyaan, atau foto.

Jika foto-foto atau video yang kamu share lucu, orang-orang akan sering liat timeline kamu. Apalagi kamu berada di situasi lagi rame banget atau banjir, seperti saya yang kemarin share video banjir dan rame. Atau kayak post foto sehabis ujian dan rame, dan ini bukan untuk mencari followers tapi untuk berbagi kisah. Sekalian menambahkan jika ingin twitmu rame, berikan pertanyaan trus hashtag #seriusnanya dan itu berkaitan dengan dunia nyata. Alhasil pasti twitmu rame. 

Nah, itu dia seputar tips saat aku berkelana di dunia twitter sejak twitku booming di bulan Juni dan pernah lagi di bulan September, Oktober karna di bulan Agustus aku merasa sombong dan gamau jb-jbin orang lagi dan akhirnya gada yang ngefollow aku. Jbjb adalah singkatan dari jawab-jawab ya intinya interaksi lah:). Ini masih seputar tips, banyak darkside, lightside twitter yang bisa aku bahas. Nanti di blog selanjutnya :). Terima kasih.

Jika ingin berkunjung ke twitterku langsung saja klik ikon twitter bagian kanan atas, atau langsung cari @sulisrahmadani  atau kalo mager langsung klik link : twitterku
Jadi buat kalian yang join 2019 gausah takut kalo gada temen, atau mutualan. sering-sering nimbrung aja pokoknya :) Semoga Bermanfaat :)
Continue reading →
Sunday, 27 October 2019

Sepenggal Mawar

4 comments





“Aw!” pekik Ani saat kakinya menginjak kulit pisang dan membuat pantatnya harus mencium tanah.

“Hahaha.” Gelak tawa terdengar dari beberapa mulut anak sekolah yang hanya berjalan tanpa menghiraukan Ani yang masih duduk memijit kakinya yang memar.  

Bukan sekali dua kali ia melalui hal semacam itu, melainkan berulang kali dan semakin parah. Semua orang menatap wajahnya dengan sinis seperti hendak menerkam mangsa yang kakinya sudah terluka.
 
Tapi, satu hal yang baru terjadi pada hari ini ialah laki-laki itu. Laki-laki berseragam putih abu-abu dengan badan kekar tinggi mengenakan pangkat tiga di dasinya, menandakan ia merupakan siswa kelas dua belas.  

“Kau tidak apa?” tanya laki-laki itu padanya yang masih ternganga diam di tempatnya. Wajah laki-laki itu sangar, tapi tatapan matanya begitu menghanyutkan.

Mendengar Ani bahkan tidak berkutik, laki-laki itu pun menjentikkan jarinya agar menyadari bahwa laki-laki itu sedang bertanya padanya.

“Kau siswi kelas sepuluh, bukan? Aku bisa mengantarmu ke UKS jika kau mau.” Laki-laki itu menawarkan bantuan sambil mengulurkan tangannya, membuat Ani seperti menatap malaikat yang tercipta di bumi.  

Tanpa berlama-lama, Ani menyambut uluran tangan itu dengan senyum tipis namun tulus. Tangannya yang semula perih mendadak hangat saat menyentuh tangan laki-laki itu. Laki-laki yang ternyata memiliki bet nama dengan tulisan Ibrah. 

Jarak UKS dari tempat Ani jatuh tidak begitu jauh, sehingga dalam beberapa menit saja, mereka sudah sampai di UKS yang penuh dengan siswa-siswi yang malas pulang ke rumah dan memilih untuk tiduran dalam UKS yang sejuk itu.

Sekolah yang memiliki kelas yang banyak, namun fasilitas yang sedikit. Seperti kotak P3K yang bahkan sudah habis dan tidak pernah diganti. Perpustakaan yang tidak banyak memiliki buku pelajaran. Serta senioritas tinggi dengan pembullyan yang sering terjadi.

Hampir satu bulan Ani di sini dan tidak sedikit pun ada penyambutan istimewa tentang sekolah ini. Sekolah yang katanya favorit tapi tidak menghasilkan murid-murid yang memiliki sopan santun, modal pintar hingga bisa mencapai jenjang kuliah yang lebih tinggi. Itulah yang selalu disesali Ani sampai saat ini.  

“Aku minta maaf mewakili Kepala Sekolah yang sampai saat ini belum melengkapi fasilitas, termasuk UKS. Jadi, jika kau tidak keberatan, biar aku antar pulang saja,” kata Ibrah dengan wajah datar namun dengan mata yang begitu tulus.

Ani lagi-lagi mengangguk dan mengikuti Ibrah menuju parkir untuk mengambil motornya segera. Tepat di saat itulah Ani merasa ada sesuatu yang tertinggal di kelasnya. Ani bahkan sengaja balik menuju kelas hingga ia terpeleset hanya untuk mengambil benda itu, tapi sekarang ia melupakannya.

Secepat mungkin Ani berbalik menuju kelas dan mengambil smartphonenya yang tergeletak sembarang di atas mejanya. Terlebih lagi, lacinya sudah mendadak bersih dan tidak ada lagi bekas sampah tempat biasa teman-temannya yang lain meletakkannya. 

Dan benar saja, kecurigaannya semakin timbul saat tiba-tiba setangkai bunga mawar oranye telah terpapar rapi di laci paling sudut dengan wangi yang begitu harum dan segar. Mawar terindah yang pernah Ani lihat sepanjang hidupnya.   

Tiba-tiba Ani terlupa lagi akan Ibrah. Ani kembali melupakan sesuatu yang pada akhirnya menghilang. Karena Ibrah bahkan sudah tidak terlihat lagi di sepanjang parkir. Yang tersisa hanya beberapa motor berplat merah, menandakan bahwa yang masih tinggal hanya guru. Mau tidak mau, Ani terpaksa berjalan kaki menuju rumahnya yang tidak begitu jauh dari sekolahnya.

Tepat keesokan harinya, setelah Ani bersiap hendak pergi, lagi-lagi ibu dan ayahnya tidak bisa mengantarnya. Hal tersulit yang paling Ani lakukan adalah pergi naik becak dan ibu ayahnya naik mobil bersama. Bahkan apa pun keluhan Ani takkan pernah tersampaikan melihat betapa sibuk orangtuanya dalam mengurus pekerjaan.  

Setibanya Ani di sekolah, ia lagi-lagi disambut dengan tatapan sinis dan kakak kelas galak yang senantiasa menghukum Ani untuk mencabut rumput, menyaring sampah dan bahkan disuruh untuk mengerjai murid-murid lain dengan menggantung tasnya bahkan jika pun ia tidak pernah terlambat.  

“Hey, kau lihat tas berwarna merah itu? Cepat kau bawakan ke kelas dua belas IPA dua, katakan bahwa itu tasmu, Evelyn akan memastikannya nanti.” Greta sudah sering melakukan hal semacam ini berulang kali, membuat Evelyn merasa tidak akan pernah dihukum sepanjang hidup akan keterlambatan karena dengan mudah, ada saja siswa kelas sepuluh yang membawakan tasnya.  

Dengan hati setengah paksa, Ani membawakan tas merah yang bahkan tidak bisa disebut tas karena tidak berat seakan buku tidak pernah berada di dalamnya. Tepat saat Ani berada di depan pintu, ia melihat Ibrah sedang berdiri sambil memasang dasinya. Ingin ia menyuruh Ibrah untuk meletakkan tas itu saat tiba-tiba Evelyn datang dan mengambil tas itu dan menyuruhnya untuk pergi.

Ibrah bahkan tidak memandangnya, tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun karena meninggalkannya kemarin. Membuat ia berpikir dua kali untuk menganggap bahwa Ibrah berlaku istimewa padanya.  

Bahkan pelajaran matematika kesukaannya mendadak menjadi hal paling membosankan karena pikiran tentang Ibrah yang terus mengganggunya. Hingga bel berbunyi dan lagi-lagi ia menunggu beberapa jam untuk memastikan bahwa kulit pisang tidak akan lagi membuatnya jatuh.  

Seperti biasa, Ani membersihkan kelas sebelum pulang, dan lagi-lagi bunga mawar oranye itu terpapar rapi di lacinya. Membuat perhatiannya akhirnya tertuju penuh pada seseorang yang memberikan bunga mawar berwarna oranye.  

“Tolong aku!” Seorang siswa menjerit ketakutan saat para senior itu mengeluarkan semua isi tasnya dan berlalu begitu saja. Pemandangan paling suram yang dapat dilihat dari kaca jendela.  

Ani berjalan menuju laki-laki itu dan membantu membereskan peralatannya, kalau tidak saja bunga mawar oranye itu membuat matanya mengerling bertanya-tanya.  

“Ayahku mengirim mawar ini pada ibu saat melamarnya. Berarti bahwa ayah ingin menjadi bagian dari hidup ibu. Aku bisa membawakanmu bunga ini jika kau tertarik.” Laki-laki itu tersenyum seakan menjawab pertanyaannya. “Lutfi.”  

Lutfi tipe laki-laki kutu buku dan memakai kacamata. Lutfi juga mengenalkannya macam-macam bunga, dimulai dari sexy red, red passion, white avalance, pink universe, sampai voodoo, bunga oranye yang kerap menghantuinya.  

Ternyata orangtua Lutfi seorang penjual bunga dan memiliki kebun bunga tersendiri yang membuat Ani semakin tertarik bersama Lutfi. Selain karena Lutfi juga kelas sepuluh, ia juga merupakan tipe laki-laki yang tidak kasar. Sampai hal itu akhirnya menjadi rumor dan kakak kelas sering menghina mereka berdua.  

“Hey, kau yang bernama Ani, bukan? Jadi kau sudah berpacaran dengan Lutfi? Selamat ya.”  

Ani bahkan tidak menggubris tatapan hinaan dari semua kakak kelas. Sedangkan Lutfi tetap tenang menghadapi situasi. Bahkan sampai enam bulan, Ani resmi bersahabat dengannya. Tapi sampai saat ini pula, seorang pengirim mawar itu tidak pernah Ani temukan.  

Satu kali Ani tidak sengaja mendapati seorang laki-laki menyelundupkan bunga mawar itu, tapi secepat kilat pula laki-laki itu berlalu tanpa terlihat wajahnya.

“Kau beruntung, Lutfi,” kata Ani pelan saat Lutfi mengajaknya ke Taman yang penuh dengan bunga saat di penghujung semester satu sebelum mereka sama-sama berlibur.   

“Tidak ada orang yang beruntung Ani, kau menganggap mereka beruntung hanya karena kau berpikir bahwa hidupmu tidak seperti yang kau bayangkan, banyak orang yang ingin bertukar tempat denganmu, dan kau ingin bertukar tempat dengan orang lain, kadang hidup sekejam itu, Ani,” balas Lutfi sambil tersenyum dan menghirup wangi bunga yang menyengat.  

“Kau ingin bertukar tempat denganku?” tanya Ani.

“Hanya jika aku perempuan sepertimu, aku mau,” jawab Lutfi sambil berjalan dan memetik setangkai bunga mawar oranye. “Berikan pada seseorang yang kau yakin kau ingin memilikinya.”  

Ani menerima mawar oranye itu sambil tersenyum dan akhirnya terpikir pada seseorang yang pertama kali menolongnya, seseorang dengan mata teduh layaknya malaikat, dan pergi menghilang seperti hantu, seseorang yang bernama Ibrah.

Senin itu, Ani sengaja datang pagi sekali dan berencana menaruh mawar oranye itu ke laci Ibrah. Ani yakin tidak akan ada seorang pun yang tahu dan ia hanya mengucapkan terima kasih karena sudah menolongnya, walaupun bukan itu arti sebenarnya.

Ani dengan mudah mengenali meja itu, meja yang sudah diberi identitas untuk mengikuti try out UN siang nanti. Bunga itu persis ia letakkan di laci dengan surat bertuliskan terima kasih dan sesegera mungkin menuju kelas.
  
Tapi berhari-hari tidak ada tanda-tanda Ibrah mendatanginya seperti hanya berucap sama-sama. Membuat Ani khawatir dan akhirnya nekat mendatangi Evelyn dan menanyakan di mana Ibrah.

“Harusnya aku curiga kau menyukainya, dia sakit berhari-hari sejak kecelakaan itu.” Seakan menjawab keterkejutannya, Evelyn melanjutkan, “Di penghujung semester satu, ia ditemukan memar dan luka di sekujur tubuhnya di sekitar Taman, aku juga tidak mengerti kenapa ia sering sekali ke tempat itu. Beruntung setelah itu liburan, dan dia dirawat di Rumah Sakit Metta Medika selama dua minggu, kadang-kadang dia masuk, kadang sakit dan harus pulang.”  

Seakan ada sayatan pisau yang begitu dalam dan membuat hatinya remuk tergores. Saat itu ia berada di Taman bersama Lutfi dan bahkan tidak melihat Ibrah. Air matanya ingin bercucuran akibat tertohok sakit di sekujur tubuhnya.  
“Lutfi, apa kau pernah mengirim bunga padaku?” tanya Ani sehari setelah kejadian itu.
“Belum. Tapi mungkin nanti aku akan mengirimnya,” jawab Lutfi tersenyum tulus. Dunia seakan hambar dan jantungnya seakan mati. Ibrah dan si pengirim mawar terus menghantuinya, membuat wajahnya kusut memikirkan semua kemungkinkan. Ia ingin menjenguk Ibrah, tapi ia tahu ia bukan siapa-siapa. “Ani, aku tahu siapa orangnya.”

Tanpa berlama-lama, Ani menyuruh Lutfi mengantarkannya pada orang itu. Sampai hawa rumah sakit menusuk hidungnya, menandakan bahwa pengirim itu tidak sedang baik-baik saja.  

Dan tepat saat ia berada di balik ruangan itu, laki-laki itu terbaring pucat dengan impus yang melekat di tangannya.  

“Ibrahim Reynaldi, laki-laki itu adalah dirinya.” Seketika tangis Ani tumpah dan terduduk begitu saja serta bersandar di bahu Lutfi yang menenangkannya. Kekesalannya terhadap Ibrah mencair begitu saja, ketakutan luar biasa akan kenyataan bahwa Ibrah tak akan pernah bangun lagi.
Teringat akan bunga mawar itu, ia akhirnya berlari menuju Taman dan mencabut satu bunga dan mengantarkannya pada Ibrah. Tepat di samping kasurnya saat suster memberikan izin untuk menemuinya.  

“Aku membencimu Ibrah, di hari pertama kita bertemu dan kau meninggalkanku, aku membencimu karena kau selalu mengirim mawar itu tanpa menunjukkan identitasmu, aku benci kau tidak pernah menatap mataku lagi,” katanya parau sambil menangis. “Dan akhirnya membuatku harus mengirim kembali bunga itu untuk berterima kasih atas semuanya.”


Tiba-tiba dunia seakan berhenti saat laki-laki terdengar bersusah payah mengeluarkan suaranya. Ibrah menggerakkan tangannya sambil berkata, “Kau mengirimku bunga?”

Ani yang semula menangis akhirnya bahagia mendengar bahwa Ibrah masih baik-baik saja. Bahkan setelah kejadian itu, Ibrah semakin membaik, dan semakin dekat pula dengan Ani sampai Ibrah lulus dan kuliah di Universitas favorit.  

“Kau tahu kenapa aku mengirimimu bunga mawar?” tanya Ibrah di bandara sebelum ia berangkat menempuh pendidikan yang lebih tinggi.

“Aku juga tidak tahu bagaimana mungkin kau ingin menjadikanku bagian dari hidupmu padahal aku baru mengenalmu,” jawab Ani.

Sambil tesenyum, Ibrah melengkapi kebahagiaannya dengan menjawab semua keraguan yang sedari dulu ia tanyakan dengan  berkata, “Awalnya itu hanya sebuah tantangan, saat seseorang menginjak kulit pisang itu, aku harus mengiriminya bunga, dan aku mengambilnya dari namamu, tapi rasa penasaranku semakin timbul saat kau tidak memarahiku padahal aku sengaja meninggalkanmu, dan aku mulai cemburu dengan Lutfi, sampai akhirnya kau memberiku semangat hari itu, aku yakin kau akan menungguku untuk menjadi bagian dari hidupmuAnita Mawar Rahmadani, aku ingin kau tahu bahwa, aku juga mencintaimu. 
Dan sepenggal mawar itu menjadi saksi bisu bagaimana cinta itu bermula.
Continue reading →

Final Destiny

6 comments

               


 “AAAAAA,” pekiknya lagi. Gadis berdandan itu lagi-lagi bermimpi. Berteriak dan membangunkan seisi keluarga. “Tidak bisakah Lisa tidur di gudang saja, Bu?” tanya Ara selaku kakak kandung Lisa yang sekamar dengannya. 

                Keluarga yang sederhana. Tidak pernah harmonis dan tidak pernah tertawa. Bahkan keramahan tidak sedikitpun tercermin di anggota keluarga itu, kecuali Lisa. Sayangnya, hanya Lisa pula yang sering bermimpi buruk di keluarga itu. Kebiasaannya yang sering berdandan saat tidur dijadikan alasan penyebab mimpi itu. 

                “Mimpi datang seperti tiupan angin, berkilau sangat lembut, membuat suara desisan kecil, bersenandung seperti musik--,” laki-laki itu memberi jeda saat Lisa mengangkat tangan tepat di depannya.

                “Dan bagaimana bila itu mimpi buruk?” tanya Lisa berkaca-kaca. Laki-laki itu bernama Reynaldi, kakak kelas yang begitu terobsesi dengan mimpi dan sering mengisi ruang kelas yang kosong. “Look at what you have done and there be no forgiveness,” jawab Rey. 

                Awal perjumpaan yang membuat Lisa dan Rey dekat hingga sekarang, tertawa bersama, dan tidak ada kesedihan di mata Lisa maupun Rey di tiap harinya. Sampai hari itu datang. Rey pergi meninggalkan Lisa untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Tanpa kabar dan ia harus menahan perih selama satu tahun terakhir di sekolahnya.

                Satu kali Lisa mulai menangis menumpahkan semua sakit hatinya. Dan mimpi buruk yang selalu mendatanginya pun tiba-tiba menghilang digantikan tidur lelap akibat tangisan yang menyiksanya.

                “Kau tidak mendengarkan kami,Nak,” ucap ibunya.

                “Mendengarkan? Sejak kapan ibu peduli? Tanpa Rey sekali pun, aku sudah merasa kehilangan kalian semua,” kata Lisa sambil mengusap air matanya yang tidak pernah berhenti di saat ia terjaga sejak kepergian Rey dua minggu yang lalu.

                Ayah, Ibu dan Ara tertegun. Sesaat mereka berpandangan untuk kemudian memeluk Lisa dan mengutarakan rasa penyesalan satu sama lain. Kehilangan akan menyakitkan apabila kita merasa dipermainkan takdir, sebaliknya bila kita tabah dan menganggap bahwa ini takdir yang baik, kita akan menyadari arti kehilangan sesungguhnya.

Continue reading →
Saturday, 26 October 2019

Where?

3 comments


Aku menemukan diriku terbaring di suatu daerah yang aku tidak tahu namanya.
Suhu di daerah itu seperti membekukan sekujur tubuhku,
gaun pengantin yang kukenakan seperti melepuh oleh dinginnya udara.
Lenganku yang tidak dibalut apapun seperti kaku untuk bergerak.
Terakhir kali yang kuingat, aku ingin menikah dengan Bryan,
laki-laki yang sudah menghamiliku.
Setelah aku mengedip beberapa kali, aku melihat seekor penguin,
berkacamata dan memakai helm seperti tokoh kartun.
Dia mendatangiku seakan memberi petunjuk. 
“Ini seperti Tarantino dalam Happy Feet dimana anak-anak penguin mati di
sepanjang pantai di Adelie Land,” ucap bayangan yang berada di langit itu.
Death.” Penguin itu bersuara dan menunjukkan pemandangan mengerikan di sekitar es itu.
Semua penguin yang kurasa jenis Adelie itu mati. 
Luas lautan es di kutub bervariasi setiap tahun,
tetapi perubahan iklim telah membuat fluktuasinya lebih ekstrem.
Banyaknya anak penguin mati karena es laut yang sangat dahsyat
memaksa orang tua mereka melakukan perjalanan lebih jauh untuk mencari makanan.
Ketika kembali, hanya dua ekor dari ribuan anak penguin
yang masih bertahan hidup.
Aku tidak bisa menolong mereka, terlalu lemah untuk berjalan,
sedangkan penguin itu berlari menjauh, dan aku terbaring.
Sembari menutup mata, aku mendengar suara, “Bel, kenapa gaunmu robek?” 
Continue reading →
Friday, 25 October 2019

About Metisazia

3 comments


Saya sewaktu SMA juga punya grup semacam RWC Odop ini, bedanya tidak tiap hari postnya melainkan setiap ada tantangan saja. Orang-orangnya sangat baik, dan juga ramah. Mereka selalu mengerti bahwa aku dulu tidak ada laptop sama sekali dan handphone aku juga bisa tidak seperti android sekarang. 

Selalu menunggu tantangan dan memberikan terbaik untuk mendapatkan koin LINE. Yap, di jaman itu memang LINE sangat berkembang dibanding Whatsapp. 

Nah sejak aku mengikuti Metisazia ada beberapa kelemahan yang bisa aku jabarkan.Ketika kita mengetahui ada beberapa kekurangan dalam Metisazia dan kita tetap masih bertahan di dalamnya.

Kekuranganyang pertama ialah kekurangan anggota. Dalam setiap grup maupun organisasi pastinya membutuhkan banyak anggota. Entah itu suatu kebetulan atau bukan, tapi suatu grup maupun komunitas akan lebih bagus bila memiliki banyak anggota.

Di samping memiliki banyak anggota akan dapat mempublikasikan bagaimana Metisazia, juga akan membuat orang yakin bahwa grup kepenulisan ini tidak main-main. Banyak orang di luar sana yang berpikir bahwa grup kepenulisan Metisazia seperti grup-grup lainnya yang sekadar kenalan, chattingan, dan tidak terdapat peraturan.

Cara memperbaiki yang seperti ini sangat mudah, admin-admin sebaiknya lebih sering lagi mempromosikan Metisazia bila ada waktu luang. Jangan terlalu banyak syarat, karena sebagian orang pasti berpikir dua kali untuk melakukan hal yang membuang-buang waktu itu. Seperti mengirim screenshot, bagikan postingan di timeline. Jujur saja, saya mengenal Metisazia dari wattpad.

Metisazia pada saat itu membuka anggota baru dan saya ikut serta dengan hanya mencantumkan nama dan id line di komentar postingan tersebut. It’s very simple...

Tapisaya tidak menyangka bahwa Metisazia masih mengadakan interview dan kerjasama sesama anggota. Dan itu yang sebenarnya membawa banyak anggota yang ingin bergabung. 

Banyak grup kepenulisan seperti Diversity Writers or some others dan saya langsung tidak selera melihat persyaratan yang cukup banyak. 

Kekurangan yang kedua, walau pun ini bagus, tapi akan banyak anggota yang keluar dengan deadline yang mepet. Sejujurnya, tidak terlalu. Tapi terkadang, saya risih dengan surprise. Ya, ini pendapat saya tersendiri. Tapi terkadang ada alasan saya tidak bisa mengikuti jadwal dan tidak sempat izin karena handphone saya pun  kadang-kadang rusak. Ini juga baru pecah layarnya.

Saya senang diberi surprise menulis. Saya suka sekali ada event menulis karena dari dulu memang itu yang saya butuhkan. Tapi karena kita harus mengikuti jadwal yang kadang-kadang bertentangan dengan jadwal sekolah, saya tidak sempat memberitahukannya.

Cara memperbaikinya dengan memaklumi orang-orang yang seperti itu agar grup Metisazia tidak berjalan di tempat.

Ketiga, Metisazia selalu membuat note dengan ketentuan agar mengirimkannya segera kalau tidak akan di kick selamanya. Sejujurnya itu mengganggu. Saya berharap ada dispensasi juga bagi yang telat mengirim dengan alasan yang jelas.

Cara memperbaikinya, notenya agak diganti dan tidak terlalu fokus di bagian kicknya. 

Cukup sekian. 

Continue reading →
Thursday, 24 October 2019

Tetesan Batin

2 comments


Nanar mata menatap kenangan
Lantaran hadirnya memberi senyuman
Namun relung hati menolak mundur
Akan kegundahan yang tak terukur

Sudihkah malam menyaksikan?
Akan gejolak amarah yang kian timbul?
Tentang realita dijadikan pilihan
Hingga tetesan pelupuk mata pun muncul

Pemicu kontra benak dan hati
Antara tetap tinggal atau pergi
Siang malam yang terus berganti
Serta batin kecewa dan tetesan dikhianati

Begitukah dipermainkan hati?
Layaknya berkabung mengubur cinta
Akan perpisahan yang teramat pedih
Bahwa bahagianya ada pada yang lain


Continue reading →
Wednesday, 23 October 2019

Sinaran Rindu

5 comments




Gulita mencekam sekujur tubuh
Mengusik seberkas cahaya tertentu
Menyelami lautan rindu
Yang terbengkalai oleh waktu

Di manakah secercah cahaya itu?
Lantas bersinar menghidupkan hati
Membunuh gelisah yang kian menanti
Serta gulita yang perlahan mati

Membuat benak terkesan beku
Lantaran pancaran yang tampak kelabu
Namun rindu kian menyapu
Dan beribu cahaya menjadi satu
Continue reading →
Tuesday, 22 October 2019

Jantung Hatiku

6 comments



Ibu...
Kala aku terbius oleh kasihmu..
Merasa dekapan yang bergemuruh
Tak berani aku melepasmu

Ibu...
Teringat wajah ayumu
Yang menghiasi hari-hariku
Di kala aku senang maupun terseduh..

Pedih jantungku ibu
Kala engkau jatuhkan butiran bening itu
Dari pelupuk matamu…
Juga kala engkau dihujami oleh kata kasar bisikan iblis dariku

Ingin kutukar jiwaku denganmu Ibu
Saat tanah basah itu menampung nisanmu…
Lututku jatuh, lidahku keluh
Teringat maaf yang tak pernah sampai padamu…



Continue reading →
Monday, 21 October 2019

Syair Cinta

6 comments

                           

Bertajuk syair penuh rasa
Diriku kau buat berbunga-bunga
Indah tuturmu yang penuh makna
Hingga penatku hilang sudah

Sudah berapa insan kau buat terpana?
Bagai pelangi yang melanglang buana
Kau sinari hati yang terluka
Lantas berseri dan penuh warna

Jantungku berkejar-kejaran
Kala kau hantarkan lengkungan bibirmu
Yang mengusik sanubariku
Dan menggetarkan jiwaku

Sanggupkah dirimu berbahagia?
Penuh suka dan duka menata hidup bersama?
Atau kau akan meremukkan batinku
Dan berusaha menepi dari benakku.






Continue reading →
Sunday, 20 October 2019

Berastagi, Kota Wisata di Sumatera Utara

2 comments
Artikel ini kami hapus karena akan ditampilkan di website ngodop.com edisi tahun 2020.
Continue reading →

Malang Bersua

1 comments



Kesaksian alam dari bintang yang bertaburan ...
Menyisakan jerih yang penuh ketegaran ...
Mengobrak-abrik belahan jiwa ...
Bagaikan punuk merindukan bulan ...
Raga yang kian mendamba ...
Mata yang tak luput terpana ...
Berseri-seri timbul kembali dalam pikiran ...
Teringat wajah ayu nan rupawan ...
Lautan samudra bagai membeku ...
Langit dan Bumi mulai bersatu ...
Waktu bergulir tapi seakan berhenti ...
Tatkala bersua dengan pujaan hati ...
Tapi manis telah berlalu ...
Singkat bersua kandas sudah ...
Jantung tertusuk kian mendarah daging ...
Teringat pelepasan akan istiadat ...
Jalan lain pun tak ada ...
Desakan penuh tiada guna ...
Batin tersiksa mulut membisu ...
Hingga jatuh cinta pun ada batasnya ...
Belaka sudah janji suci ...
Saat pengorbanan tak lagi berarti ...
Bahagia di kala pertama ...
Malang sudah di akhir cerita ...

Continue reading →

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)