Friday, 20 September 2019

Seindah Kunang-Kunang [Chapter 2]

16 comments



Belakangan kutahu namanya Dyo, dia pemimpin kelompok itu, Frans merupakan orang Karo, Dyo sendiri orang Batak, dan dua lainnya –Rico dan Aldi- sama-sama orang Minang.

Mereka selalu berempat, melihat mereka berjalan seperti melihat keberagaman Indonesia yang nyata dan sangat kuat, tapi mengapa mereka masih bisa saling membenci di tengah keragaman itu.

Indonesia sangat kaya akan keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote. Dengan berbagai macam suku dan agama, adat istiadat, bahasa, kepercayaan serta golongan semuanya harus bersatu padu membentuk Indonesia. Seperti wilayah Indonesia sendiri yang banyak. Tapi mengapa masih ada di antara mereka yang saling membenci? Apa yang terjadi? Tidakkah konflik itu hanya memicu disintegrasi? Dan pada akhirnya hanya siulan belaka tentang Indonesia. Serta merta semua pihak saling menuduh atas ketidakadilan yang terjadi. Lalu apa yang harusnya dilakukan? Memendam masalah bukanlah solusi, kita harus berbagi, harus bercengkrama walau tidak dengan satu akidah, walau berbeda prinsip dalam sebuah kasus, tapi kita Indonesia, kita bersatu, kita Bhinneka Tunggal Ika, tidak bisa berdiri sendiri dan kekuatan terbesar kita adalah keberagaman itu.”

Tulisanku itu dimuat secepat kilat, aku membaca pesan yang berusaha kusampaikan. Kita memang tidak bisa semudah itu percaya pada orang lain, tapi kita juga harus memahami apa yang orang lain butuhkan.

Seperti Rey, yang kutahu ia hanya butuh teman bicara, bahwa belakangan ini ayah dan ibunya bercerai karena konflik agama yang tidak sejalan, ibunya merupakan Kristen yang taat, dan ayahnya Muslim yang taat juga. Rey sendiri membenci Frans, karena ibunya menikah lagi dengan ayahnya Frans.

Rey ternyata memilih mengikuti ayahnya, dendam pada ibunya dan ia benar-benar menjauh dari yang berhubungan dengan itu.

Tapi, aku berusaha merangkulnya. Memberikan celah untuknya dan kelompok Dyo untuk kembali bisa berkomunikasi. Hingga tidak ada dendam yang masih membekas di hati Rey. 

Ambo takut sidak dak mau mamaafkan ambo3,” kata Rey dengan air muka sedihnya. 

“Kami tidak mungkin memarahimu jika kau meminta maaf,” jawab Aldi yang membuat raut wajah Rey bersinar. Kehadiran kelompok yang tiba-tiba itu menyadarkanku satu hal, jika kita memiliki niat baik, niat baik itu yang akan datang kepada kita.

***
Wair for the last chapter

#RWCOdopBacth7
#OneDayOnePost

16 comments:

Terima Kasih telah membaca. Akan sangat dihargai jika diberi kritik dan saran juga hal menarik lainnya yang akan dibahas :)

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)