Wednesday, 18 September 2019

Pola Pikir Diri Sendiri Mencerminkan Perdamaian yang Paripurna

2 comments

Kesadaran akan kehendak dalam mencapai perdamaian semakin sulit ditemukan dari tiap warga negara Indonesia. Pentingnya kedamaian dibuktikan dalam pidato yang disampaikan di hadapan majelis Sidang Umum PBB ke-73 di New York, Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden Republik Indonesia mengatakan tentang pentingnya menilik kembali kekuatan sebagai pemimpin negara. Bahwa sering kali pemimpin terlena hingga lupa bahwa kekuatan besar yang dimiliki harusnya dapat menjadi tumpuan untuk masyarakat adil, damai, dan sejahtera.
Damai adalah suatu kata sakral yang banyak orang ingin mencapainya namun sulit melakukannya. Hal ini dipicu karena dendam atau tidak setimpalnya kasus-kasus yang terjadi sehingga orang sangat sulit untuk berdamai. Padahal, pada pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tepatnya di Alinea Keempat, sudah diberitahukan agar rakyat Indonesia ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Bahwa perdamaian menjadi tujuan utama dari kemanusiaan. Hampir tidak ada orang yang bisa menentang perdamaian, apalagi demi mewujudkan perdamaian dunia. Tanpa adanya kedamaian, sebuah negara akan terpecah belah dan banyak kericuhan serta kekerasan yang kemudian memicu konflik antar suku, daerah, dan akhirnya bersifat tidak peduli terhadap sekitar. Seperti kasus Palestina dan Israel yang tak henti-hentinya menjadi perbincangan karena selalu diwarnai kekerasan dan akhirnya saling benci tanpa pernah memikirkan untuk berdamai. Kekerasan dan kejahatan bisa terjadi di mana pun dan dengan konflik yang bermacam-macam pula. Di Indonesia, kekerasan yang marak terjadi adalah kekerasan pada anak. Pada tahun 2017 tidak lebih dari 116 kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani oleh KPAI. Dalam data tersebut, pelakunya adalah orang-orang terdekat seperti ayah tiri, ayah kandung, keluarga dekat, dan temannya. Padahal anak seharusnya merupakan bagian dari keluarga yang dibesarkan dengan kasih sayang hingga maut memisahkan, bukan membunuh atau menyiksa anak dengan semena-mena. Jika dalam keluarga saja tidak ada keharmonisan dan kedamaian, lalu apalagi yang diharapkan seorang anak dari kedua orangtuanya. Perilaku orangtua jugalah yang akan mempengaruhi anak. Setelah konflik berlangsung, tentu banyak individu yang menginginkan perdamaian pula, dan banyak cara untuk mengatasinya. Seperti Barapen atau bakar batu, menjadi ritual khusus bagi masyarakat di pegunungan tengah Papua tepatnya di Kabupaten Jayawijaya, untuk penyelesaian konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Sebelum dilakukan barapen, biasanya kedua kubu yang bertikai melakukan pemanahan terhadap seekor babi yang telah disepakati bersama. Jika hewan tersebut langsung mati, maka acara perdamaian itu kemungkinan besar akan sukses, namun jika tak langsung mati berarti masih ada dendam di antara dua kubu sehingga acara perdamaian tidak bisa dilakukan. Dan masih banyak cara untuk melakukan perdamaian. Solusi-solusi yang dicanangkan pemerintah setempat pun sudah menjadi wacana sehari-hari. Namun ada juga yang akhirnya dilakukan, seperti Konser Indonesia Damai yang diadakan di Yogyakata pada Juni 2018 yang dihadiri oleh negarawan Ahmad Syafii Maarif, Gubernur DIY sekaligus dan tokoh-tokoh terkenal lainnya menghimbau agar rakyat Indonesia dapat bersatu sehingga bisa membangun negara yang sangat besar bernama NKRI sehingga terwujudnya perdamaian dunia. Hal inilah yang harus menjadi tolak ukur setiap masyarakat, tidak hanya melakukan konser kesenangan seperti berjoget ria, melainkan juga perubahan pola kesadaran agar bisa diamalkan setiap hari. Jika pemerintah terlalu lalai dan tidak berpikir secara cerdas betapa pentingnya perdamaian, maka negara itu akan hancur dengan sendirinya. Walaupun terdapat perbedaan dalam setiap akar masalah, cobalah berpikir dengan jernih dan ubahlah mindset lawan bicara dengan pemikiran kita sendiri. Karena semua itu dimulai dari diri sendiri. Kejahatan dan kekerasan bisa saja terjadi dan semuanya dapat dibersihkan tapi ada bekasnya, namun akan berbeda ketika kejahatan dan kekerasan itu dapat dicegah melalui himbauan-himbauan positif dari pemerintah dan bagaimana kita menyikapi setiap persoalan dengan lapang dada. Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, bagian dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan masyarakat yang harusnya luar biasa untuk masa depan yang lebih cerah. Pemuda-pemudi yang cerdas akan terus bergerak demi mencapai tujuan kemanusiaan yakni perdamaian, bercermin pada diri sendiri, tinggalkan keangkuhan, dan mulailah lakukan hal bermanfaat untuk Indonesia, yakni kedamaian yang paripurna.

***

#RWCOdopBatch7
#OneDayOnePost

2 comments:

Terima Kasih telah membaca. Akan sangat dihargai jika diberi kritik dan saran juga hal menarik lainnya yang akan dibahas :)

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)