Tuesday, 8 October 2019

TAK KASAT MATA

0 comments

“Karena yang tak kasat mata muncul dengan sebab yang nyata.”***



“Lepaskan aku.” Gadis itu berteriak meronta-ronta. Tapi tidak ada yang berani menolongnya. Bahkan saat gadis itu berlari sekuat tenaga, semua orang menghindarinya. Karena yang menggenggam erat gadis itu, makhluk tak kasat mata.

Gadis desa berdandan itu harus mengalami nasib serupa yang kesekian kalinya. Ketakutan yang teramat dalam dan membuat dirinya sendiri kesurupan.

Setiap orang yang berada di sekitar wilayah itu, maka habislah pribadinya, dikuasai sang hantu di gubuk tua itu.  Kadang kala warga menemukan gadis lainnya bernyanyi sendiri seperti orang gila dan meliuk-liukkan badannya sendiri. 

“Intinya, rumah di sekitar gubuk itu, sangat rawan hantu,” ungkap Firman, penjaga desa yang kerap melihat penampakan saat ia masih bertugas.

Sudah banyak polisi dan dukun kondang datang menelusuri gubuk itu, tapi selalu saja kosong seperti tidak pernah dihuni siapa-siapa. 

Sampai suatu ketika, pasangan suami-istri tanpa sengaja membeli kontrakan di sekitar gubuk itu setelah tiga tahun lamanya tidak pernah ada pembantaian lagi.

Semua hal tentang gubuk itu, dianggap mitos dan hanya cerita lama. Mereka bahkan tidak tahu menahu tentang kisah-kisah seram di desa itu. Bahkan gubuk itu sendiri sudah menjadi rumah besar yang ditempati seorang wanita kaya.

“TOKTOKTOK!” Suara ketukan pintu membuat Fatma, istri Arga menyudahi urusan dapurnya demi melihat seseorang yang malam-malam berusaha datang ke rumah.

“Selamat Malam, saya Ratna, pemilik rumah di seberang, bolehkah saya memberikan parcel ini sebagai tanda selamat datang dan menjadi tetangga baru saya?” Fatma seketika tersenyum menampakkan gigi rapinya sambil menyuruh Ratna duduk.

“Wah, terima kasih ya Mbak, pasti suami saya juga senang jika tahu Mbak Ratna di sini,” ucap Fatma sembari menyiapkan hidangan teh untuk Ratna. 

Beberapa menit kemudian, Arga mengucap salam dan mengecup istrinya, sadar bahwa ada wanita lain, Arga pun hendak bertanya sebelum Fatma akhirnya menjelaskan terlebih dahulu perihal Ratna datang.

“Oh iya, makasih Mbak, Ma, aku tunggu di kamar ya, Mas lelah.” Kalimat itu menutup pembicaraan antara Arga dan Ratna. Saat itu pula, Ratna memilih pulang dan tersenyum pelan ke arah Fatma.
Selepas kepergian Ratna, Fatma memilih menyusul suaminya, ini adalah malam pertama mereka di rumah ini, sekaligus malam pertama mereka sebagai suami istri. 

Tapi, belum sempat ia masuk ke kamar, seorang laki-laki menutup mulutnya dan membawanya paksa. Ingin ia berteriak kalau tidak saja laki-laki itu adalah suaminya. Mereka hendak memulai malam pertama yang romantis itu, sebelum Fatma melihat rambut panjang di jendela.

“Mas, i—itu rambut siapa?” tanya Fatma tergagap. Arga berusaha melarikan pernyataan itu dan memilih menyentuh istrinya. Tapi Fatma malah tidak fokus dan ketakutan karena penampakan rambut itu terus mengganggu.

“Baiklah, Mas akan lihat.” Arga mendekat ke arah jendela dan perlahan membukanya. Tiba-tiba sepotong kepala wanita jatuh dengan darah kering yang melekat.

Spontan Fatma berteriak, dengan Arga yang menenangkan istrinya sembari memakai baju dan keluar mencari tahu siapa yang sudah melakukannya. 

Tepat saat Arga membuka pintu, Ratna sudah berdiri dengan rambut ikal sebahunya yang sontak membuat Arga terkejut. 

“Aku mendengar suara teriakan dari sini, jadi aku buru-buru datang, di mana Fatma?” tanya Ratna panik. Arga hanya menunjuk ke kamar dan berlari ke arah jendela.

“Ratna, kebetulan kau ada di sini, aku melihat rambut itu seperti terjepit dan saat dibuka ternyata kepala seorang wanita, aku benar-benar gelisah malam ini.” Fatma menjelaskan dengan nada paniknya.

“Tak apa, sudah biasa hal ini terjadi,” Ratna memeluk Fatma dan mengelus punggungnya.
Tapi Fatma tertegun, ia bingung dengan penjelasan Ratna tentang hal biasa terjadi. Apa memang sebelumnya rumah ini berhantu?

“Ya, kira-kira begitu.” Fatma tanpa sadar mengeluarkan isi pikirannya yang membuat Ratna menjawab.

Saat Ratna mendekat, Fatma memilih berlari keluar dan menyusul suaminya. Namun pintu itu tiba-tiba tertutup dan membuat Fatma harus berhenti dan berbalik mencari jalan lain.
Tapi Ratna hanya membuatnya semakin ketakutan dan memilih menuju dapur sambil mengambil pisau jika terjadi apa-apa. Tapi air di wastafel malah tiba-tiba menyala dan mengeluarkan darah yang sontak membuat Fatma berteriak lagi. Ratna berusaha menenangkan Fatma, tapi Fatma malah mencurigai Ratna yang dalang dibalik semua ini.

“Aku orang baik, aku yang akan menolongmu, tenanglah,” kata Ratna sambil membuang pisau di tangan Fatma.

“Tolooong!” Suara Arga mengagetkan Fatma dan Ratna. Mereka langsung melompat dari jendela.

“AWAS FATMA.” Fatma seketika menunduk mendengar instruksi suaminya. Tepat saat itu, darah menetes dari atap dan mengenai wajah Ratna.  

Sontak Fatma berteriak dan menarik Ratna yang masih terdiam. Pasutri itu bingung, karena Ratna tak kunjung berjalan mengikutinya. Tiba-tiba Ratna mengambil pisau dan menggunting rambutnya sendiri serta merta bernyanyi dengan lagu yang tidak pernah Arga maupun Fatma dengar sebelumnya.

Perlahan Ratna duduk dan tiba-tiba meliuk-liukkan badannya. Fatma bergidik ngeri, jika yang dicurigai juga kesurupan, maka hantu siapa yang menghuni rumah ini.

Belum sempat Fatma berlari, ia melihat sosok dengan wajah pucat pasi tanpa mata dengan mulut yang lebar. Di situasi seperti ini, Fatma tidak bisa berteriak, ia malah berlari dan melindungi suaminya.

“Di-dia di belakangmu, Ga,” ucap Fatma saat berada di samping Arga sembari pingsan, tak kuat menahan jantungnya yang kian gelisah.

“Siapa kau? Kau sudah menghancurkan hari bahagiaku, apa yang kau inginkan?” teriak Arga emosi sambil terisak memegang wajah Fatma yang sangat pucat.

Tiba-tiba muncul kucing hitam yang menggeram, seperti tanda ingin memperlihatkan sesuatu. Arga dengan pelan mengikutinya sembari menggendong Fatma.

Tepat di kuburan bertuliskan “Estelle” itu, kucing itu pergi. Tertulis secarik kertas di atas kuburan itu.
“Aku membenci hari di mana Freddy meninggalkanku. Di saat harusnya kami malam pertama, ia malah bercinta dengan sahabatku, Elena, kakaknya Ratna. Aku tahu ini sangat menjijikkan untuknya, tapi aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkan kalian bahagia sebelum aku bisa memiliki Freddy di sisiku.”

Arga membaca surat itu berulang kali dan mulai mengerti. Harus Ratna yang menyelesaikannya.
Tapi di saat Arga kembali, Ratna sudah ditemukan tergantung dengan sayatan pisau di lehernya. Fatma yang baru terbangun spontan berteriak dan memeluk Arga.

“Katakan ini sudah berakhir.” Fatma menangis.

“Sayang, kita akan mengatasi semuanya.” Arga mengelus kepala istrinya.

Tiba-tiba terdengar suara jejak kaki yang makin mendekat dan membuat Arga pasrah jika memang 
dicabut nyawanya.

“Astaga, kalian tidak apa?” Sesosok Ratna muncul lagi tapi dengan rambut yang dikuncir kuda dengan baju yang berbeda.

“Ratna? Jadi yang digantung itu siapa?” Arga panik sambil menunjuk mayat yang disangka Ratna tadi yang ternyata sudah menghilang. Malam itu, benar-benar malam pertama dan malam terakhir. 

Karena setelahnya, Arga dan Fatma memilih mengganti tempat bulan madu mereka.
Setelah peristiwa itu, diketahui bahwa Elena adalah saudara kembar Ratna, dan perempuan yang digantung itu mungkin Elena, sementara Freddy tidak pernah pulang ke rumah, bahkan tidak ada yang tahu kemana Freddy menghilang. Sementara Ratna, terus berkunjung ke makam Estelle meminta maaf atas kesalahan kakaknya.

“Hanya aku yang tinggal, sendiri di tempat mengerikan ini.” Ratna berucap sembari menutup pintu rumahnya.
***
“Karena yang tak kasat mata muncul dengan sebab yang nyata.”
***



Leave a Reply

Terima Kasih telah membaca. Akan sangat dihargai jika diberi kritik dan saran juga hal menarik lainnya yang akan dibahas :)

Labels

Cerpen (37) Wacana (18) Artikel (12) Puisi (8) Drabble (7) Sad Story (7) Review Blog (3) Ulasan (3) Essay (2) Lagi Viral (2) Resensi (2) Review Film (2) Review Series (2) Tips (2) Biografi (1) Quotes (1)